Minggu, September 23, 2007

Selamat Bergabung !!

Selamat Bergabung dengan Saya Anis Masykhur. Buka Mata, Telinga dan Hati Anda untuk menapak Langkah menuju masa depan anda. Kepekaan anda pada lingkungan di sekitar anda, akan menjadikan anda berhasil. Asalkan lingkungan anda tidak mendikte anda.
Dalam perkuliahan bersama saya, ada beberapa hal yang harus anda perhatikan:
Pertama, saya kurang suka kepada mahasiswa yang membuat tugas berupa paper/makalah, diambil dari hasil pemindahan dari buku. Tapi saya menginginkan anda membuat dan mengolah hasil bacaan anda dari buku referensi terkait. (Baca artikel tentang Plagiarisme di bawah)
Kedua, Saya lebih menghargai proses dari pada hasil. untuk itu penilaian tertinggi pada perkuliahan saya pada proses-proses perkuliahan, yang meliputi khadiran, keaktivan, pembuatan makalah, revisi, dan lain-lain.
Ketiga, Dalam beberapa penugasan, saya akan meminta kepada anda untuk aktif membuka blog saya ini. Jika saya berhalangan tidak hadir.
selamat kepada kelas Tarbiyah Pendidikan Bahasa Arab, Syariah Akhwal Asy-Syahsyiah dan Muamalah.
Anda juga bisa kontak seluruh informasi perkuliahan dengan saya melalui nomor HP atau email saya.
Untuk mengakses pada links: PERKULIAHAN ANIS (sebelah kanan bawah)desktop ini. Terima kasih.

Jumat, Juni 22, 2007

Mempertanyakan Sejarah Kebesaran Islam (???)

Buku yang dibedah:
Judul Buku: Negara Madinah; Politik Penaklukan Masyarakat Suku Arab
Penulis : Khalil Abdul Karim
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Edisi : Cet ke-1, Februari 2005
Tebal : xvii + 431 hal

"…selanjutnya saya meminta kalian untuk masuk Islam, jika tidak mau membayat jizyah, atau aku perangi"

Itulah kutipan Surat Nabi Muhammad Saw ketika beliau berkehendak memperluas pengaruh ajaran Islam ke seantero dunia. Surat tersebut diabadikan dalam kitab-kitab Hadis terkemuka, semisal Sahih Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab Hadis lainnya.
Perjalanan kebesaran dan kejayaan periode awal Islam sangat membanggakan. Bahkan, kebesaran tersebut senantiasa menjadi ajang nostalgia bagi sebagian umat Islam kini untuk kembali ke masa lalu. Euphoria "kembali kepada Islam" adalah berarti kembali kepada keadaan sebagaimana kejayaan masa lalu.
Buku yang berjudul asli, "Daulah Madinah: Basyair fi 'Am Al-Wufud," yang mengkritisi dokumen-dokumen sejarah kebesaran Islam merupakan buku yang sangat menarik untuk mengetahui lebih mendalam dengan perspektif yang berbeda.
Khalil Abdul Karim mengatakan bahwa tunduknya kabilah-kabilah Arab kepada Negara Madinah bukan karena Islam sebagai agama, tapi karena Quraisy-nya sebagai suku yang menghegemoni semenjak lama. Dengan mencermati periwayatan hadis tentang masuknya Islam para kabilah di Semenanjung Arab tersebut, penulis menyatakan kesimpulan seperti itu. "Teror" dijadikan media politik oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga para kabilah menjadi merasa terancam keberadaannya.
Jika dibedakan, bahwa orang-orang yang masuk Islam karena agama itu terjadi pada periode Makkah, karena mereka betul-betul melihat dengan hati yang suci terhadap Islam sebagai sebuah kebanaran. Namun, pengikutnya tidaklah seberapa. Sehingga Nabi Muhammad Saw tampaknya memerlukan kekuatan politik, yakni kebesaran Suku Quraisy. Maka, pasca hijrah ke Yatsrib—yang kemudian dirubah menjadi Madinah—wibawa suku dipergunakan. Dan luar biasa, media politik ini berhasil membawa Islam makin besar dan daerah kekuasaannya makin luas. Inilah yang disebut, bahwa agama memerlukan media kekuasaan untuk menjadi besar.
Jika dibandingkan dengan dakwah ala Nabi Isa as, bahwa Isa menyebarkan "Islam"-nya tidak dengan kekuasaan, sehingga para pengikutnyapun tidaklah seberapa. Pengikut setianya pun hanya 11 orang.
***
Buku ini tiada maksud mengobrak-abrik sejarah yang sudah mapan. Namun, teori sejarah menyatakan bahwa Sejarah dibuat oleh siapa yang berkuasa saat itu. Buku ini menampilkan sisi kelam sejarah Islam.
***
Ungkapan-ungkapan kaget para mahasiswa SAS V STAIN Samarinda tampak kentara sekali, dalam kegiatan bedah buku kelas Rabu, 13 Juni 2007. Yang menjadi pembedah saat itu adalah Dedi Irawan dan Arika Karim. Perhaitkan komentarnya, "mungkin ini sebuah kebenaran, bisa juga bukan kebenaran," ungkapannya. Menurutnya, sejarah saat ini banyak menyembunyikan hal-hal kelamnya, dan kita baru mengetahui setelah banyak membaca buku sejarah dengan perspektif lainnya. "Adayang tidak tidak transparan dalam kitab-kitab hadis," kritiknya. Sementara Dedi Irawan mempertanyakan, "Menagapa Quran turun di Bangsa Quraisy dan dengan bahasa Quraisy?" Hal yang sama juga diungkapkan peserta diskusi bahwa Islam turun di lingkungan bangsa Arab (c,q, Quraisy) buykanlah hal kesalahan. Makanya Desman Minang mempertanayakan, "Apa Kelebihan bangsa Quraisy ini??" Ini adalah sebaaian dinamikan yang terjadi dalam diskusi tersebut. Anda akan lebih banyak bertanya lagi setelah membaca buku tersebut dengan tuntas..
Wallahu a'lamu bis shawab..

Kamis, Juni 14, 2007

Berjuang Melalui Jalur Politik, Banyak Gagalnya

Barangkali itulah kesimpulan dari hasil bedah buku tulisan Oliver Roy, Gagalnya Islam Politik, (Bandung: Mizan, 2003), yang panelnya adalah Sugianto dan Khairul Anam, di ruang Kuliah S STAIN Samarinda, 6 Juni 2007. Bedah buku ini cukup asyik dan menarik. Sengaja, pengampu mata kuliah Fiqh Siyasah, Anis Masykhur, MA mengalokasikan salah satu jam kuliahnya untuk bedah buku ini, agar mahasiswa tidak hanya mampu membaca karya orang lain, tapi juga mampu mengkritisi karya orang lain. Diskusi berlangsung menarik, karena sudah diawali dari perbedaan sudut pandang para panelisnya. Bagi Anam, yang sangat mengidolakan Abu A'la Al-Maududi dan Yusuf Qordhowi dalam menyampaikan pandangan politiknya, bahwa Kegagalan Islam Politik ini perlu didefinisikan. Tampaknya oliver Roy lebih mengukur kesuksesan politik adalah sejauh mana ia mendapatkan kekuasaan.
"Padahal Ihwanul Muslimun itu sukses dalam mengembangkan sayapnya, meskipun gagal dalam mendapatkan kekuasaan. Kita bisa melihat, gerakan ini sudah menyebar ke seuluruh belantara dunia, ada yang menggunakan nama IM ada pula dengan Hizbut Tahrir." tutur Anam.
Lain Anam, lain Sugianto. Baginya berpolitik adalah kekuasaan. Namun selain itu, amatan Oliver Roy tidak berhenti sampai di situ saja. Sebab, kesuksesan yang lain yang patut dicermati adalah kesuksesan politik Iran di bawah pimpinan ayatullah Khomeini. "Oliver Roy mengidolakan Ayatullah Khomeini," tuturnya dengan khas jawanya. Kesuksesan yang dimaksud adalah adanya gerakan perubahan, terutama perubahan sosial.
Selanjutnya, di akhir pertemuannya, Anis Masykhur menguatkan bahwa, Oliver Roy memang orientalis berkebangsaan Perancis. Namun, kita sebagai ilmuwan harus bisa menempatkan. Karena siapa tahu ada "emas" yang dikeluarkan dari pantat ayam. Kita bisa menyeleksi hal itu. Lalu berhubungan dengan pendapat Oliver Roy dalam buku tersebut adalah, bahwa yang dimaksud dengan kegagalan itu memang kegagalan mendapatkan kekuasaan. Kalaupun mendapatkannya, Islam Politik tidak mampu memberikan perubahan bagi rakyatnya. Perhatikan Pakistan dengan kemiskinannya.
"Seharusnya, karena misi Islam adalah mensejahterakan rakyatnya, mencerdaskannya dan lain sebagainya, ketika Islam Politik berhasil mendapatkan kekuasaannya, kebaikan-kebaikan itu harus bisa didapatnya." tutur Anis dengan gaya khasnya.
Membaca buku ini menarik, makin meningkatkan daya kritis kita. Silahkan, jika anda tertarik. Wallahu 'alamu bis shawab.

Senin, Mei 14, 2007

Peneliti Harus Menjauhi Plagiasi !!!

Seorang peneliti sebenarnya memegang peran penting dalam proses kesempurnaan hidup ini. Sebab, segala tindakan harus didahului oleh sebuah penelitian. Termasuk di dalamnya adalah kebijakan. Karena, sebuah kebijakan sangat terkait erat dengan nasib manusia banyak.
Untuk itu, ada beberapa "pakem" bagi seorang peneliti yang harus dipenuhi dan menjadi acuan di dalamnya:
1.Brain (kecerdasan); kemampuan penalaran yang memadai termasuk di antaranya kreativitas dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ditemui di lapangan. Seorang peneliti mutlak mempunyai kecerdasan ini. Sebagai contoh, dalam pengambilan sampel dengan model systematik sampling, lalu dalam kenyataannya malah menemukan kuburan atau rumah kosong, padahal sampel yang diinginkan adalah manusia atau seseorang yang tinggal menetap di tempat sebagaimana diprediksi sebelumnya, bagaimana seorang peneliti harus bersikap? Contoh lain adalah dalam memilih strategi agar dapat menjaring informan/responden atau agar informan mau mengungkapkan semua yang diperlukan peneliti.
2.ability (kemampuan); terutama dalam hal pemahaman teknik penelitian yang didasari oleh pemahaman metodologis yang memadai. Metodologi sangat menentukan kualitas hasil penelitian. Apakah dengan metodologi tersebut, hipotesisnya bisa teruji ataukah tidak, dst. Pada penelitian-penelitian di PTAIN, tampaknya lebih banyak menyederhanakan metodologi ini. Hal ini tampak dalam kualitas penelitian yang dihasilkannya.
Syarat ini ibarat pisau, semakin di asah, semakin tajam. Sebaliknya, seorang dosen yang jarang meneliti, makin sulit untuk melakukan penelitian dan akan kebingungan memilih metodologi yang tepat.
3.Bravery (keberanian); yakni berani memasuki kancah riset; maupun keberanian menanggung segala resiko yang mungkin terjadi. Bravery terkait dengan skill ketika belajar megatasi kesulitan-kesulitan selama dan pasca penelitian. Misalkan, seseorang yang melakukan penelitian ke lingkungan pelacuran dengan pendekatan partisipatif, maka mau tidak mau seorang peneliti harus tinggal bersama mereka. Klaim masyarakat akan seorang peneliti demikian bisa muncul bermacam-macam. Kadang dia akan dituduh telah berzina, atau tuduhan minor lainnya. Setelah melakukan penelitian, stereotype seperti itupun kadang sulit untuk dihilangkan.
4.Honesty (kejujuran); kejujuran pembuktiannya. Kejujuran ini tidak hanya dalam tingkat otentisitas tulisannya, namun juga kejujuran pemenuhan model metodologi yang dipergunakannya. Termasuk di dalamnya adalah kemauan mengkaji hasil tulisan atau penelitian yang dilakukan sebelumnya. Terkadang, hasil sebuah penelitian menampilkan hasil yang cukup bombastis. Seperti yang pernah dilakukan oleh Iip Wijanarko yang Menguat realitas perilaku seks kalangan terpelajar di Yogyakarta, menyebutkan bahwa sebanyak 97,5% kalangan terpelajar di Yogyakarta telah berhubungan seks di luar nikah. Hasil ini diekspose ke luar sehingga menggemparkan kota Yogyakarta. Padahal di lihat dari metodologi, hasil tersebut tidak bisa digeneralisir dan seharusnya jangan dipublikasikan tanpa menyebut bentuk metodologi yang dipergunakannya.
5. ethics; menjunjung tinggi kode etik masyarakat. Artinya, seorang peneliti yang terjun meneliti—misalkan—ke dalam masyarakat pelacur, bukan berarti dia boleh melakukan pelacuran/berzina. Karena itu, selain bertentangan dengan masyarakat, juga bertentangan dengan ajaran agama. Tidak hanya sampai di situ. Keterlibatan seorang peneliti sejati juga harus sedari awal hingga proses pengumpulan data dan analisis data. Etika penelitian tidak membenarkan adanya ”order” penyelesaian penelitian. Karena dimungkinkan akan ada keterputusan ”ide” dan semangat awal pelaksanaan penelitian.
6. relationship; Seorang peneliti harus senantiasa membina hubungan dengan masyarakat yang pernah menjadi objek peneliti (subjek penelitian). Karena, seorang peneliti tersebut lebih mengetahui persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, dia menjadi bagian dari masyarakat yang ikut memperbaiki dan mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Seperti halnya yang pernah dilakukan oleh Romo Mangunwijaya yang meneliti di masyarakat pinggiran kali di Yogyakarta. Beliau terus membinanya dan menjadi masyarakat yang berperadaban.
7. tidak hedonis. Maksudnya adalah, seorang peneliti tidak melakukan penelitian berdasar kepentingan si peneliti an sich dan materi, namun hendaknya ada kelanjutan setelah penelitian. Entah itu menyelesaikan persoalan ataupun memberi masukan kepada masyarakat dan si peneliti melakukan fasilitasi terhadap mereka. Untuk itu penelitian seharusnya bervisi jangka panjang dan tidak hanya berorientasi ekonomi materialistik jangka pendek. Sebab, jika demikian maka penelitian cenderung akan dilakukan dengan ceroboh dan manipulatif.
8. Follow up. Tindak lanjut sangat penting. Untuk itu seyogyanya sebuah penelitian studi kebijakan harus menghasilkan rekomendasi yang kemudian dikirimkan kepada instansi terkait yang direkomendasikan. Kritik terhadap penelitian yang positivistik salah satunya adalah karena hanya berhenti pada tahap rekomendasi, dan menyerahkan penyelesaiannya kepada pihak lain. Padahal, jika si penelitia yang menangani kelanjutannya, hemat penulis akan lebih maksimal hasilnya.
9.Peneliti harus melepaskan diri dari kecenderungan dan keberpihakan. Karena akan berakibat memunculkan ”manipulasi” data—dan kadang dipaksakan untuk—sesuai dengan ”pesanan” sponsorship.
Dalam bahasa Sutrisno Hadi, seorang peneliti harus memenuhi syarat-syarat di bawah ini:
1.berkompeten dalam bidangnya, artinya secara teknik menguasai dan mampu menyelenggarakan riset secara ilmiah.
2.peneliti harus bersifat obyektif
3.peneliti harus jujur. Artinya peneliti tidak mencampuradukkan pendapat dirinya ke dalam fakta-fakta.
4.peneliti harus faktual. Artinya bekerja dan berbicara harus dengan fakta-fakta
5.peneliti harus terbuka, dalam arti dia harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menguji kebenaran dari proses dan atau hasil penyelidikannya.
Para peneliti merumuskan karakter ideal bagi seorang peneliti memang tidak jauh dari paparan di atas. Supriyo Ambar mengutip pemaparan Achmad Baihaqi yang mengemukakan karakter peneliti yang sebenarnya adalah di bawah ini:
1.memiliki kemampuan dan daya pikir yang tinggi
2.memiliki kejujuran intelektual
3.memiliki cukup kemampuan untuk memahami dan mengingat informasi, fakta dan data
4.mampu berkomunikasi baik secara lisan dan tulisan
5.berpikir kritis
6.bertindak proaktif, responsif dan antisipatif terhadap suatu masalah
7.memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
8.memiliki ketelitian, ketekunan dan produktif
9.memiliki kesabaran
10.sistematis dalam bekerja dan rapi
11.tidak mudah menyerah, berperilaku optimis dan positif
12.memiliki kecintaan terhadap pekerjaannya
13.menghargai karya dan pekerjaan orang lain

Sebenarnya yang paling perlu diperhatikan dalam etika penelitian ini adalah jangan sampai terjadi malalaku (misconduct). Malalaku ini menyangkut ketaatan seorang peneliti dalam menghindari penyimpangan pelaksanaan penelitian yang tidak etis, termasuk rekaan, pemalsuan darai, plagiatisme, manipulasi, dan lain sebagainya. Prof. Dr. Ing H. Faraz Umar mengajukan butir-butir yang perlu ditanggapi serius dalam kasus plagiarism ini.
“…di PT besar terkenal di Indonesia sebagai reviewer penelitian Hibah bersaing, ternyata Ketua Lembaga Penelitian PT ybs mencabut proposal penelitian atas nama Mr X, karena ada pengaduan bahwa proposal tersebut hak Mr X yang mengadukan ke PT tersebut”

Sampai Manakah Batas Plagiarisme?
Banyak yang belum paham batas-batas plagiasi ini. Disebut satu jiplakan utuh, jika penjiplakan terjadi seratus persen dan hanya mengubah nama pengarang atau judul. Bisa pula, suatu plagiat merupakan suatu karya yang bersifat ‘heavily referenced’ dari suatu karya orang lain.
Sebenarnya, proses ‘meniru dan mengembangkan’ ini adalah bentuk terkecil dari “plagiasi”. Artinya, jika seorang mengambil ide dari orang lain kemudian dia mengembangkan sebenarnya termasuk jenis plagiasi. Namun, etika penelitian dan penulisan membuat batasan dan aturan tertentu untuk mengurangi “kuantitas” plagiasi tersebut dengan memberikan ketentuan perlunya “ucapan terima kasih, referensi, sitasi, catatan kaki, catatan belakang, dan sebagainya.” Sebetulnya ini semua adalah sarana untuk mengakui bahwa yang bersangkutan memakai karya orang lain yang kemudian dikembangkan sendiri.
Jika adanya ucapan terima kasih, catatan kaki, dan sejenisnya itu dilakukan, maka menurut Rusdi Muchtar, hal itu tidak termasuk ke dalam plagiasi.
Plagiasi yang tak terkendalikan sudah pasti merusak nama baik peneliti. Bahkan, martabat institusi di mana si peneliti bekerja bisa terkena getahnya. Untuk itu, anti plagiasi harus digerakkan dan disosialisasikan terus menerus dan berkesinambungan.

Selasa, Maret 06, 2007

WELCOME FOR SAS FIFTH STUDENTS

Setidaknya ada 3 (tiga) harapan saya sebagai mitra konsultasi anda selama mengikuti perkuliahan dengan saya.
Pertama, saya berharap daya kritis anda mengalami peningkatan setelah saya mencermati perkembangan anda ketika anda mengikuti kuliah saya di semester 4
Kedua, saya berharap anda memperbanyak bacaan anda di mata kuliah ini sehingga anda bisa PD mengungkapkan pendapat anda. Anda bisa mengungkapkan hal tersebut dengan sistematis, menarik dan berisi, tidak asal ngomong
Ketiga, saya berharap anda bisa membuat makalah dengan baik dan terhindar dari plagiasi, sesuai arahan dan petunjuk yang dilakukan di kelas.

untuk itu, tugas pembuatan makalah dilakukan di 3 pertemuan awal. Minggu kedua, sudah terbagi kelompok dan tawaran tema-tema yang disepakati.

By Anis Masykhur