Senin, Juli 25, 2022

Merdeka belajar ala Madrasah yang Lahirkan Para Pembelajar

Saya memiliki pengalaman mengikuti pendidikan yang sangat menarik di sebuah sekolah jenjang SLTA khusus bidang agama yang berada di pinggiran kota Solo di tahun 90an. Nama sekolahnya adalah Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus--disingkat MAN-PK atau lebih familiarnya MAPK. Kurikulumnya, 85% keagamaan yang disampaikan dengan dua bahasa; Arab dan Inggris sebagai pengantar. Proses belajarnya secara formal dari jam 07.00 sampai dengan 12.30 setiap harinya, 14.00 - 16.30 untuk tutorial muatan keagamaan dan waktu sisanya untuk belajar mandiri dan pengembangan potensi diri. Dari sekian mata pelajaran, hanya Bahasa Indonesia, matematika, Pendidikan Moral Pancasila, Bahasa Inggris dan sosiologi yang merupakan mata pelajaran "sekuler" yang diajarkan pada jam belajar formal.

Ketika ada jam kosong di pagi hari, para siswa secara bergiliran mengisi dengan diskusi ‘bedah buku’ atau penyampaian gagasan-gagasan sebagai hasil refleksi atas buku-buku yang dibacanya. Setiap habis liburan panjang, setiap siswa harus menceritakan pengalaman liburannya yang paling berkesan. Jika ia suka dengan puisi, maka dia akan berpuisi. Jika ia suka bercerita, maka ia akan sampaikan dengan cerita lucunya. Jika ia suka banyol, lebih heboh lagi tentunya. Yah, kami dilatih untuk berbicara, berpikir kritis, mengungkapkan pikiran, dan lain-lain.

Jam-jam transisi adalah jam-jam yang merupakan kesempatan setiap anak mengekspressikan potensinya. Yang ingin mengoptimalkan potensi otak kirinya, dia suka corat-coret menuangkan ekspressinya dalam goresan pena kaligrafinya atau ‘mojok’ di kamar bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi yang tidak jelas arahnya. Kalo yang masih membawa ‘aroma’ santri pada jenjang pendidikan sebelumnya, ia akan pergi ke tempat yang agak sunyi dan berlatih membaca Al-Quran bi al-nagham (lagu). Yah sekedar mengoptimalkan kecerdasan musicalnya. Yang memiliki kecerdasan kinestetik, dia akan menuju ke ‘lapangan’ di tengah kuburan sekedar main bola. Yang memiliki kecerdasan intrapersonal, dia akan pergi ke kuburan untuk mencari inspirasi, lalu ia tuangkan dalam bentuk tulisan, puisi atau artikel, dan lain sebagainya. Semua kemampuan tersebut terekspressikan dalam wadah kegiatan yang bernama muhadlarah, yakni sebuah acara latihan berpidato dalam 3 bahasa. Di sela-sela itu ada sessi hiburan (tashliyah). Setiap siswa diberi kesempatan secara bergiliran. 

Dalam membongkar pola pikir keagamaannya, kami semua di’hidangkan’ menu pemikiran dalam 3 (tiga) corak sesuai profil para asatidz pembina; fundamental, liberal dan moderat (lebih cocoknya sepertinya konservatif). Maka, tidak ayal lagi jika selama kontak di dalamnya, pertarungan discourse keislaman menjadi sangat dinamis. Secara pemikiran, kita menjadi terbelah. Namun keterbelahan tersebut bukan menciptakan friksi antar kita. Bisa dikatakan, MAPK dapat disebut gambaran model pendidikan dengan spirit nilai-nilai moderasi.

Uniknya, selama 3 tahun menggeluti ilmu agama, tapi alumninya bisa mendaftar kuliahnya selain di PT yang linier. Seharusnya lulusan sekolah ini “ditakdirkan” hanya masuk di kampus agama, yakni IAIN (saat itu). Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit lulusannya yang "menyebrang" dan menciptakan “takdir”nya sendiri. Mereka diterima kuliah di UGM, UI, UNDIP, ISI, ITB, UMS, STAN dan lain sebagainya. Lebih unik lagi, setelah lulus kuliah di PT, dunia kerjanya banyak yang tidak terkait sama sekali dengan disiplin ilmunya. Ada yang menjadi sastrawan, sutradara perfilman, novelis, pianis, konsultan keuangan, entrepreneur, hypnotherapy, motivator, pengacara, pengamat politik, politisi, polisi, tentara, aktivis NGO, wiraswasta, dan sebagiannya lagi berprofesi sebagai pendidik, dosen atau tokoh agama.  

Unik memang, tapi ini adalah kenyataan dari sebuah praktik pendidikan yang patut dikaji lebih dalam, mengapa bisa demikian.

Selama di tempat kerja, saya juga menemukan seorang anak muda yang kreatif. Saya telusuri latar belakang pendidikannya dan ternyata kemampuan kreatifitasnya tidak ada sangkut pautnya dengan disiplin ilmu yang dipelajari di bangku kuliahnya. Dia dikenal sebagai desainer grafis, pembuat film pendek, layout buku dan sejenisnya dengan imajinasi di atas rata-rata.     

Kini, setelah saya menjadi praktisi pendidikan dan memahami seluk beluk pendidikan, saya berani mengatakan barangkali itulah produk dari sebuah proses pendidikan yang dinamakan--meminjam istilah Mendikbud Nadiem Makarim--dengan "merdeka belajar". Merdeka belajar bukanlah barang baru dan sudah lama ditetapkan di beberapa lembaga pendidikan di Indonesia meski tanpa menyebutnya dengan istilah 'merdeka belajar'.

Ketika merdeka belajar dilaunching Kemendikbud beberapa bulan yang lalu, hemat saya, adalah salah satu bentuk reformasi bidang pendidikan yang paling berani. Gagasan ini diharapkan dapat membongkar mindset lama pendidikan nasional yakni menganggap pendidikan yang melulu menyiapkan peserta didiknya menjadi pekerja. Namun apa daya, ternyata penerjemahan konsep ‘merdeka belajar’ terjebak lagi dalam linking and matching dengan dunia kerja.

Merdeka belajar adalah konsep pendidikan yang sebenarnya merupakan bentuk kritik atas kemapanan model pendidikan yang terlalu "mengabdi" pada dunia industri. Kebijakan pendidikan terlalu diorientasikan untuk mempersiapkan tenaga trampil bekerja. Maka sedari masuk sekolah, peserta didik "terdoktrin" dengan 'belajar untuk bekerja'. Alhasil, setelah bekerja mereka menganggap "sudah tidak perlu belajar." Maka lahirlah para pekerja yang sepanjang hayat menjadi pekerja. Analisis saya, ‘Merdeka Belajar’ adalah penerjemahan dari teori-teori tentang ‘pendidikan yang membebaskan’ yang berparadigma praksis - kritis. Salah satu tokoh yang dikenal kritis terhadap model pendidikan modern adalah seorang pendidik dari Brazil yang bernama Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul ‘Pedagogy of the Oppressed’ (Pendidikan Kaum Tertindas).

Nah, merdeka belajar harus didesain untuk lahirkan para pembelajar. Pembelajar adalah seseorang yang merasa tidak akan pernah berhenti belajar meski sudah bekerja. Belajar bukanlah sekedar "ritual" untuk mendapatkan gelar lalu bekerja. Pembelajar harus memahami bahwa hidup ini sesungguhnya adalah rangkaian kegiatan "belajar", belajar mengeja ilmu, belajar menyesuaikan dengan segala kondisi, belajar menghadapi persoalan dan tentu saja siap untuk memecahkannya. Hidup ini bagi pembelajar sejati adalah suatu lahan luas dimana bermacam-macam ilmu bisa dipelajari, dimaknai dan diamalkan. Barangkali itulah makna “thalab al-’ilmi min al-mahdi ila al-lahdi”.

Seorang pembelajar selalu siap dengan segala keadaan. Dia tidak terjebak dengan latar belakang dirinya baik latar belakang keilmuan maupun kehidupannya. Dia terbiasa melakukan terobosan dan berkreasi.

Memang, keadaan seperti itu seakan mengiyakan hasil dokumen UNESCO yang pernah dipublish 13 tahun lalu yang menyebutkan bahwa hanya 5% orang yang bekerja sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunya.

Data UNESCO tersebut sebenarnya sekaligus menunjukkan bahwa jika dunia pendidikan selalu diproyeksikan harus selalu "link and match" dengan dunia kerja, adalah sebuah kealpaan. Sebab pendidikan seharusnya melahirkan para pembelajar yang siap menghadapi perubahan termasuk perubahan kebutuhan kerja, memiliki fleksibilitas dengan perubahan zaman dan juga perubahan dunia. Sebab perubahan itu berlangsung terus menerus dan berlangsung sangat cepat. Bisa dibayangkan jika kurikulum pendidikan harus selalu menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Pendidikan harus mampu menjadikan pembelajar menemukan jati dirinya sebagai manusia (bukan mesin ya?). Dalam bahasa tasawuf disebut insan kamil (manusia sempurna). dengan statusnya sebagai insan kamil, ia siap untuk mengemban fungsi khilafah, yaitu khirasat al-din (menjaga agama) dan siyasat al-dunya (mengelola dunia).

Nah, selama ini pendidikan diarahkan untuk mengisi dunia kerja. Dengan kata lain, ilmu yang diajarkannya adalah ketrampilan, tidak menyinggung sama sekali aspek keilmuan yang sebenarnya. Pendidikan menjadi tempat penyiapan tenaga kerja perusahaan-perusahaan. Selesai menempuh pendidikan, mereka harus mencari kerja, bukan mencipta lapangan pekerjaan. Mereka enggan melanjutkan profesi orang tuanya sebagai petani meski lulusan dari sekolah pertanian. Tidak mampu berwiraswasta meski lulusan perekonomian. Jika pendidikan memiliki fungsi yang demikian, maka lembaga pendidikan memerankan sebagai lembaga yang “memperdayakan” bukan lembaga yang “memberdayakan”.

Ini adalah anomali pendidikan, yang sekaligus menunjukan bahwa ada yang salah dalam desain pendidikan nasional.

“Merdeka belajar” betul-betul dapat mengembalikan pendidikan pada "fitrah"nya dan juga dapat lahirkan para pembelajar. Pendidikan juga menjadi berkorelasi positif dengan kesejahteraan dan kualitas pendidikan. Di situlah, saya merasakan belajar di MAPK betul-betul ‘merdeka belajar’.


Anis Masykhur, Lulus dari MAPK Tahun 1995. Praktisi Pendidikan dan Peneliti & Dosen pada Alhikmah Islamic Studies Institut dan Dosen UIN Samarinda Kaltim. Email: anismanis@gmail.com 

Sabtu, Juli 09, 2022

Ibadah Haji Dan Qurban; Napak Tilas Perjalanan Nabi Ibrahim


الله اكبر 9
x كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة و اصيلا  لا اله الا الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد. الحمد لله له الملك وله الحمد وهو عل كل شيء قدير. الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم ايكم احسن عملا وهو العزيز الغفور. أََشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ, اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى الرَّسُوْلِ الشَّفِيْعِ الْعَظْيْمِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ (ص) وَعَلىَ آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ, اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ (اما بعد) فَيَا أَيُّهاَ الْمُسْلِمُوْنَ, اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ وَقاَلَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ(27)لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Sidang Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Setelah khatib menyampaikan puji syukur kepada Allah Swt atas segala nikmat yang kita semua terimda yang tiada terkira dan dilanjutkan shalawat kepada baginda Rasulullah Saw, khatib tak bosan-bosannya untuk mengingatkan kita semua agar senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita dengan bukti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi lara ngan-Nya. 

Allahu Akbar Walillahil Hamd

Sejak hari kemarin, sejumlah ummat Islam di dunia bersama-sama mengumandangkan takbir, Allahu akbar3x, mengagungkan nama Allah Swt sekaligus bersyukur dalam rangka Idul Adha (hari raya kurban). Sedangkan yang menunaikan ibadah haji mengumandangkan talbiyah menjawab panggilan-Nya. Labbaikallahumma Labbaik…

Jamaah Idul Adha Rahimakumullah

Ibadah Haji dan ibadah qurban merupakan program “napak tilas” pendiri monotheisme dunia, Nabiyullah Ibrahim a.s., khalilullah, sang kekasih Allah Swt sebagai suatu jalan untuk menemukan kembali fitrah manusia itu sendiri. Ia bukan hanya sekedar ritual ibadah yang berdimensi individual, tapi juga berdimensi sosial. Ibadah haji adalah deklarasi kepercayaan, sebuah proses reformasi diri, serta motivasi untuk lebih menguatkan semangat pengabdian kepada Allah Swt. Perjalanan Panjang Nabi Ibrahim mencari Tuhannya, dengan melihat gejala-gejala alam; terbit dan tenggelamnya bintang, bulan dan matahari, sampai ia berkesimpulan menuju pada Zat yang satu. Setelah menemukan tuhannya, ia menjalankan perintah Allah Swt tanpa ada penolakan sedikitpun; mulai dari meninggalkan istri dan putra tercintanya di tengah gurun nan gersang, hingga mengorbankan putranya, Ismail as ketika menjelang dewasa, demi bakti dan pengabdiannya kepada Allah Swt.

Allahu Akbar Walillahil Hamd

Ibadah haji adalah sebuah ‘keberangkatan’; bukan hanya suatu perpindahan geografis dari satu titik ke titik lainnya dalam waktu tertentu (yakni dari Indonesia ke Makkah, dari bukit Shafa ke marwa, dan lain sebagainya), bukan juga perpisahan sesaat dari seorang pengelana modern yang hanya menurutkan rasa ingin tahu; melainkan juga merupakan suatu keterputusan batiniah dengan diri sendiri, dengan dunia ‘rumah’ yang sudah begitu akrab dengan kebiasaan-kebiasaan yang sudah mapan. Memaknai haji dan qurban secara tidak tepat, maka haji dan qurban menjadi sebuah ritual yang hampa akan makna.

Akibatnya, jika kita tidak hati-hati, ibadah haji menjadi tidak berbeda dengan aktifitas penyembahan terhadap batu (benda mati), atau berkeliling mengkultuskan sebuah bangunan sederhana (yakni ka’bah).

Allahu Akbar Walillahil Hamd

Allah swt telah berfirman dalam QS Al-Baqarah [2]: 189

وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

….Bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah orang yang bertakwa…

Ayat ini dipahami bahwa ibadah haji bukanlah ritualitas fisik belaka, masuk dan keluar, pindah dari satu tempat ke tempat lain, namun jauh lebih dalam dari itu semua, yakni dalam rangka menggapai makna ketakwaan sejati.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Ibadah haji harus sarat makna yang lebih mendasar bagi para pelakunya. Acara-acara ibadah/ritual dan non ritualnya serta kewajiban atau larangan yang diberlakukan, baik secara nyata dan simbolik, dapat mengantarkan jamaah pada satu tujuan hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan yang lebih menunjukkan makna hakikat agama, yang pada akhirnya pemahaman ini akan merealisasikan dan menunjukkan agama Islam betul--betul sebagai rahmatan lil 'alamin.

Makna ibadah haji akan menjadi lebih jelas lagi bila ditempatkan pada perspektif gerakan kemanusiaan, yang mengibarkan lambang abadi dari pesan kebersamaan dan kesetaraan derajat antar sesama manusia.

Ibadah haji merupakan contoh ibadah yang memosisikan manusia secara setara, ‘tanpa perbedaan status sosial’.

Ini tersirat dari firman Allah Swt:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ(27)لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. (QS Al-Hajj: 27-28)

 

Jamaah Rahimakumullah

Mari kita cermati contohnya satu persatu. Seorang muslim yang hendak berhaji harus mulai rela meninggalkan rumah, status sosial, dan segala kenikmatannya untuk menuju baitullah. Karena Tuhan tidak bisa didekati kecuali dengan meninggalkan seluruh ego kita.

Proses ibadah haji sejak miqat makani, yang ditandai dengan memakai kain ihram, mengandung makna yang signifikan bagi terwujudnya masyarakat tanpa perbedaan status sosial. Manusia harus melepaskan seluruh pakaian kesehariannya. Sejak saat itu, terlarang untuk terlalu bangga dengan status dan jabatannya; umat harus meninggalkannya menuju persamaan antar sesama.

Pakaian menyimbolkan perbedaan status sosial, pola dan preferensi seseorang. Pakaian juga menutupi watak manusia dan dirinya dari aslinya. Pakaian juga berpengaruh secara psikologis kepada pemakainya. Oleh karena itu, inilah awal pemisahan segala perbedaan dan awal menuju komunitas anti-struktur.

Kemudian ketika melaksanakan wukuf  (berdiam) di Padang Arafah, seluruh jamaah melakukan perenungan terhadap jati dirinya dan menyadari siapa dirinya; segala sesuatu adalah sama di hadapan Allah dan Allah tidaklah akan melihat status sosialnya. Kesadaran ini akan membawa manusia akan semakin arif dalam segala tindak tanduknya.

Itulah yang ditunjukkan oleh Kholilullah, dengan penghancuran tempat pemujaan (dalam bentuk berhala) dan bahkan harus rela mengorbankan apa yang dimilikinya yakni anak dan istri demi cintanya pada Allah Swt. Istrinya, Siti Hajar dan putranya harus ditinggalkan di tengah padang pasir nan gersang Bersama anaknya, Ismail a.s. Dan Ketika menginjak dewasa, harus dikorbankan karena perintah Allah Swt. Itulah kemudian yang menjadi syariat ibadah Kurban. 

Jamaah Rahimakumullah

Sayangnya, praktik ibadah haji sekarang ini kering dari nilai itu semua. Ibadah haji mengalami pembedaan secara praktik dan ideologi yang berdasarkan kelas sosial. Ibadah yang pada awalnya mengandung nilai mulia itu, telah menjadi ibadah yang menampilkan jurang perbedaan status sosial yang tajam. Di satu sisi, kaum elit pedesaan melaksanakan ibadah haji dengan sederhana dan ala kadarnya, yang kemudian diistilahkan dengan haji biasa. Sementara, kaum elit perkotaan melaksanakan ibadah haji  dengan perlakuan istimewa dan cepat yang biasa disebut dengan haji plus. Di sana ditawarkan hotel-hotel berbintang, transportasi dengan bus-bus ber-AC dan sarana-sarana lainnya.

Kaum elit mulai senang berhaji seraya menampakkan simbol-simbol keelitan dan keislamannya. Mereka mulai menampakkan identitas “kehajjiannya” meskipun dengan amalan-amalan terbatas. Mereka mulai terjebak dalam baju-baju haji dan simbol-simbol keagamaan yang semu, menganggap berhaji hanya untuk mendapatkan peci putih beserta surbannya. Akhirnya banyak orang yang mengaku dirinya “haji”, tapi bersamaan dengan itu juga mereka “rajin” menzalimi orang lain, dan lain sebagainya.

Jamaah Shalat Id yang dimulyakan Allah

Barangkali itulah yang menjadikan kisah tokoh sufi dan muhaddis, Abdullah bin Mubarak. Kisahnya dimulai dari mimpi al-Imam Abdullah bin Mubarak di satu malam, dimana ia dalam mimpinya melihat dua orang yang saling berbicara. Yang satu mengatakan, “tahukah kamu tahun ini berapa orang yang Allah terima hajinya?” Orang kedua menjawab: “Tidak!” Yang bertanya tadi kemudian mengatakan: “Tahun ini, banyak dari orang yang berhaji tidak diterima hajinya. Tapi, Allah kemudian memaafkan mereka semua lalu menerima hajinya dengan kemuliaan seorang tukang sepatu di daerah Syam meskipun dia tidak berangkat haji.”

Setelah mendengar dialog itu, Ibn Mubarak terbangun kaget dan tidak bisa tidur.

Esoknya ia berangkat mencari ke Syam siapa sebenarnya tukang sepatu ini, padahal ia tidak tahu namanya. Singkat cerita Abdullah bin Mubarak menemukan tukang sepatu tersebut. Beliau langsung bertanya, “wahai tukang sepatu, anda berhaji tahun ini?” Tukang sepatu menjawab: “tidak.” Abdullah bin Mubarak pun bertanya lagi, “kalau gitu, ceritakan peristiwa tentangmu!”

Tukang sepatu bertanya lagi, “memangnya kenapa?”

Abdullah bin Mubarak meyakinkannya dengan mengatakan, “berceritalah, nanti saya akan menjelaskan alasannya.”

Tukang sepatu pun mulai bercerita, “pekerjaan saya tukang sepatu. Sejak awal tahun ini, saya mulai menyisihkan pendapatan saya sedikit-sedikit supaya bisa berhaji di akhir tahun atau tahun sesudahnya. Ketika sudah hampir memasuki musim haji, saya melihat harta saya sudah cukup untuk berangkat haji. Saya pun mulai mempersiapkan segala hal, sampai setelah itu saya kembali ke rumah dan istri saya yang sedang hamil menemui saya. Lalu tercium bau daging panggang yang nikmat sekali masuk ke dalam rumah. Istri saya kemudian langsung memberikan piring dan bilang, “coba minta perkenan tetangga kita yang memasak ini agar memberikan sedikit ke kita.” Saya pun setuju dan keluar mencari sumber bau itu, dan tiba di sebuah rumah. Ketika pintunya dibuka, keluarlah seorang perempuan tua. Saya pun menyampaikan keinginan saya. Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “baik, saya akan berikan. Tapi boleh saya menceritakan kisahku. Saya rasa engkau perlu mengetahui ini, kalau menurut anda kisah ini baik, saya akan memberikan daging panggangnya.” Saya pun mengiyakan. Perempuan itu pun cerita, suaminya sudah meninggal lama. Dan harta mereka baru saja habis seminggu sebelumnya. Anak-anaknya hari ini sudah mulai kelaparan. Perempuan itu pun keluar mencoba barangkali menemukan sesuatu yang bisa dimakan, sampai ia menemukan ada kambing mati di suatu tempat pembuangan. Naluri keibuannya bangkit, sang perempuan mencoba mengambil sebagian daging dan membawanya pulang untuk dimasak dan itulah dagingnya.

Aku pun segera pulang, menampar-nampar wajahku sendiri dan menyalahkan diriku. Ini tetanggaku masih membutuhkan dan anak-anak bahkan hampir mati sementara aku sejak kemarin terus mengumpulkan harta untuk berhaji. Aku pun pulang mengambil harta itu, dan kembali ke rumah perempuan itu dan menyedekahkan semua hartaku untuknya.”

Abdullah bin Mubarak pun berkata, “Berbahagialah engkau, Allah tidak hanya mencatatmu sebagai seorang haji saja, tapi karenamu Allah menerima ibadah haji semua orang di tahun ini.” Kisah ini disebut sumbernya dapat ditemukan dalam al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibn Katsir.

Allahu Akbar walillahilhamd

Ibadah haji itu mencerminkan kepulangan secara mutlak kepada Allah yang tidak memiliki keterbatasan. Pulang kepada Tuhan  adalah sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, kemudahan kekuatan nilai dan fakta. Dengan melakukan perjalanan keabadian ini manusia memang tidak akan pernah ‘sampai’ kepada-Nya. Tetapi ini merupakan manivestasi dari perjalanan “menghampiri”-Nya.

Semoga kita bisa istiqamah mempertahankan tradisi baik yang telah dibangun Nabiyullah Ibarahim a.s.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ



LIMA KARAKTER MANUSIA PASCA RAMADHAN, TOLOK UKUR KESUKSESAN MELEWATI RAMDHAN

 الله أكبر (٩×) كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد الحمد لله الذى هدانا لهذا و ما كنا لنهتدى لولا أن هدانا الله اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد أن سيدنا  ونبينا محمداً عبده ورسوله لا نبي بعدهاللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن ولاه ومن تبع هداه إلى يوم لقاء الله أما بعد فيا عباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز من اتقاه وأطاعه حيث قال الله فى محكم هداه ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كل أمتى يدخلون الجنة إلا من أبى قيل ومن يأبى يارسول الله قال ومن أطاعنى دخل الجنة ومن عصانى فقد أبى صدق الله العظيم وصدق رسوله الكريم ونحن على ذلك من الشاهدين و الشاكرين والحمد لله رب العالمين

Jamaah sidang Idul Fitri rahimakumullah.

Hari ini, 1  Syawwal 1443  H yang dikenal oleh kita semua sebagai hari raya idul Fitri adalah hari kebahagiaan, bahagia karena meraih kemenangan dan ketaqwaan. Sebagai seorang muslim, patutlah kita bersyukur atas karunia Allah yang besar ini. Terlebih karena sepertinya negara tercinta ini secara perlahan terbebas dari pandemi menjadi endemic, sehingga kita dapat menjalankan salah satu syariatnya yakni menunaikan shalat berjamaah di masjid. Dan semoga puasa kita dan ibadah yang lainnya adalah wujud syukur kita di kepada Allah Swt. Seorang Muslim yang mampu merasakan bahwa menjalankan ibadah adalah wujud syukur kepada-Nya, adalah wujud keber-Islaman yang tinggi. Ini mengingatkan Ketika Rasul Saw di tanya para sahabat,: “Ya Rasulullah, mengapa engkau masih melaksanakan shalat atau ibadah lainnya, padahal engkau sudah di jamin masuk surga?” Apa jawab Rasul Saw: “Tidak bolehkan aku bersyukur atas segala karunia tersebut?” Sebuah pertanyaan retoris yang luar biasa tinggi pesan dan maknanya.

Maka sudah selayaknyalah kita sebagai umatnya senantiasa bershalawat kepada-Nya sebagai bukti cinta kepadaNya, semoga dapat menjadi wasilah untuk mendapatkan syafaatnya di hari kiamat nanti.

Jamaah Rahimakumullah

Kata Idul Fitri terdiri dari 2 kata “Id” dan “Fitri”. ‘Id artinya adalah kembali, dan fitri artinya suci. Namun dalam Bahasa Arab, kata “fitri” ini memiliki maka khusus, dan beda dengan kata “fitrah”. Kata “Fitri” adalah kesucian yang didapat bagi orang-orang yang telah selesai menunaikan ibadah puasa, artinya ia sedang menikmati indahnya “berbuka”- nya, yang tidak akan pernah dirasakan bagi seorang muslim yang tidak menjalankan puasa. Maka, jika ia disebut hari raya. Maka ia adalah pesta bagi orang-orang yang berpuasa. Yang tidak berpuasa, ibarat tamu yang tidak diundang.

Jamaah Rahimakumullah

Hari ini, kita kumpul di tempat yang dimuliakan Allah, kita menjadi dimuliakan karena ketaqwaan, kita dimuliakan karena keilmuan, kita dimuliakan karena Allah masih beri kita kesempatan untuk menjadi orang dan bersama dalam kesalehan, kita dimuliakan karena kita berada dalam cinta kasih sesama insan yang beriman dan hidup berkebangsaan di negara yang tercinta. Sekali lagi patutlah bagi kita untuk senantias bersyukurlah kepada-Nya.

Kaum Muslimin Muslimat yang berbahagia

Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, selama sebulan penuh kita berjibaku mengisi hari demi hari, malam demi malam dengan penuh semangat peribadatan. Lantas, apakah kita dapat mengetahui keberhasilan puasa kita. Lalu apakah cukup bagi kita merayakan kemenangannya dengan memakai baju baru? Mengapa para ajaran agama menyarankan Hari Raya ini untuk memakai serba baru?

Berkenaan dengan kebiasaan serba membaharui mulai dari busana hingga berbenah rumah, ada sebuah mahfuzhat yang popular:

ليس العيد لمن لبس الجديد و لكنّ العيد لمن تقوئه يزيد

Tidaklah hari raya itu memakai pakaian baru, tapi yang disebut id adalah ketakwaan dan ketaatannya yang kian bertambah.

Allahu akbar walillahilhamd

Mahfuzhat ini memang memberikan kritik atas kebiasaan umat Islam yang lebih berkonsentrasi memperbaharui busana dari ibadahnya. Namun demikian, perintah berbusana serba baru adalah banyak pesan di dalamnya.

Ajaran agama kita banyak menyampaikan pesan dengan menggunakan simbol. Nah, sebenarnya pakaian baru adalah simbol bahwa kita hari ini (yang berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan) menempuh hidup baru dan serba baru, dengan keimanan dan ketakwaan baru.

Hakikatnya, orang yang menuntaskan puasa Ramadlan sudah kembali keadaan suci, seperti aslinya. Dalam Bahasa hadis diumpamakan “kayaumin waladathu ummuh” (seperti bayi yang baru dilahirkan). Inilah sebenarnya ciri asal sebagai penduduk surga. Maka, seyogyanya kita saat ini sudah layak menempati surga, karena kita aslinya adalah warga dari Surga. Sebagaimana Rasul Saw bersabda:

 كل أمتى يدخلون الجنة إلا من أبى قيل ومن يأبى يارسول الله قال ومن أطاعنى دخل الجنة ومن عصانى فقد أبى

Artinya:

Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali yang enggan. Sahabat bertanya: Siapa yang enggan itu ya Rasulullah? Rasul menjawab: “Barang siapa yang taat kepadaku, maka dia masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku, maka dia adalah termasuk yang enggan pulang kampung menuju Surga.

Jawaban Rasul Saw ini menegaskan bahwa seyogyanya seusai Ramadlan ini kita sebagai muslim menunjukkan perilaku sebagai ahli surga. Inilah yang akan menjadikan bahwa kita berhasil memanen Ramadlan jika kita untuk masa-masa ke depan menunjukkan perilaku sebagai penduduk surga.

Jamaah Rahimakumullah

Mari kita perhatikan, beberapa karakter yang terlihat dalam satu paket ayat puasa.

Pertama: Karakter Ketaqwaan. Bahkan takwa menjadi hasil akhir dari puasa.

Secara tegas Allah SWT memberikan penjelasan,

يا ايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة: ١٨٣)

Clue ayat di atas adalah “tattaqun” (taqwa). Karakter ketaqwaan adalah sifat multi intellegensia manusia yang komplit sifat kebaikan pada diri insan. Karakter dasar yang melekatkan sifat dan watak yang selalu adaptif, responsif dalam ritme kehidupan yang mendamaikan dan membahagiakan. Bahasa agama menyebutkan “imtitsal awamirihi wajtinabuh nawahihi”

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Karakter kedua adalah Karakter Keilmuan. Dalam lanjutan ayat tentang puasa ramadhan, Allah melanjutkan dengan penjelasan karakter keilmuan. Hal ini terlihat dari firman-Nya:

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون (١٨٤)

Clue ayat di atas adalah “ta’lamun” dengan akar kata “ilmu”, dan ayat lainnya “faman syahida minkumus syahra falyasumhu”. Memulai puasa dan cara berpuasa harus pakai ilmu, tanpa ilmu puasa menjadi kurang bermakna.

Ketaqwaan dan keilmuan laksana dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan, sebab ibadah tanpa pengetahuan kurang begitu berarti. Ibadah yang dilakukan tanpa ilmu malah melahirkan pemahaman yang salah. Banyak yang terjadi, karena semangat ibadah yang tidak dilandasi ilmu pengetahuan. Sering kita dapati, banyak sebagian dari kita yang giat mengejar yang sunnah tapi mengorbankan yang wajib. Di sinilah, perintah menuntut ilmu didengungkan sejak keluar kanduangan hingga sampai masuk liang lahat.

Jamaah Rahimakumullah

Karakter ketiga adalah Karakter Kesyukuran. Allah Swt. berfirman:

ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون. (البقرة: ١٨٥)

Clue ayat di atas adalah syukur. Ciri calon penduduk surga adalah senantiasa bersyukur, karena merasa mendapatkan rahmat-Nya. “Senantiasa bersyukur” menghadirkan sosok pribadi insan yang memiliki jiwa yang selalu menghargai segala aneka jenis anugerah dan pemberian.

Sebaliknya, tiadanya karakter dan watak kesyukuran pada pribadi setiap insan akan mudah menghadirkan sifat iri, dengki, cemburu, mencari-cari kesalahan orang dan sejenisnya. Jika sikap syukur hilang pada kepribadian insan, maka jangan pernah berharap untuk menjadi manusia yang paripurna sempurna dalam menikmati dinamika kehidupan.

Pantaslah Sang Nabi Muhammad Saw menasihatkan:

من لم يشكر القليل لم يشكر الكثير ومن لم يشكر الناس لم يشكر الله (أو كما قال صلى الله عليه وسلم)

Siapa yang tak bersyukur dalam kekurangan tentu tak akan        pernah mampu syukur dalam kecukupan, Siapa yang tak bisa berterima kasih sesama manusia, dia tak akan pernah bisa bersyukur kepada Allah Swt.

Tetaplah bersyukur atas segala keadaan, kebahagiaan akan selalu tersemayam dalam di relung hati sanubari kita sekalian.

Allah Akhbar walillahil hamd

Karakter keempat adalah karakter al-mursyidin yakni selalu tercerahkan.

Allah Swt berfirman:

وإذا سألك عبادى عنى فإنى قريب أجيب دعوة الداعي إذا دعانى فليستجيبوا لى وليؤمنوا بى لعلهم يرشدون (البقرة :١٧٦)

Kata “yarsudun” adalah clue karakter keempat yang selalu terbimbing dalam kebaikan. Al-mursyidun adalah karakter yang tak akan mudah terjebak jatuh dalam noda dosa kegelapan, tak akan pernah tergelincir dalam dosa kata dan perkataan, orang yang selalu dalam bimbingan dan pengawasan Seorang mursyid tak akan pernah lengah dan malas dalam menebarkan kebaikan dan keharmonisan di setiap masa, waktu dan lingkungan kehidupan.

Karakter al-mursyidin ini tak akan dapat diraih jika tidak diawali dengan tiga pilar karakter utama yaitu karakter ketaqwaan, keilmuan dan kesyukuran.

Saudaraku seiman yang termuliakan.

Semua hal di atas, lagi-lagi muaranya adalah ketakwaan.

Allah Swt. tegaskan:

كذلك يبين الله آياته للناس لعلهم يتقون (البقرة:١٨٧)

Ketaqwaan paripurna setiap insan terletak dalam kemampuannya mempertahankan keempat karakter yang disebut oleh Allah Swt dalam Al-Quran.

Gelar ketaqwaan menjadi penanda sang Insan telah menghadirkan semua elemen kehidupan dalam balutan keridhaan Allah Swt yang maha memberi keberkahan. Gelar kehormatan dan penghargaan kemuliaan bagi insan yang beriman di mana telah berhasil melewati etape demi etape kehidupan yang sangat menggoyahkan dan menggiurkan. Hanya dengan memiliki karakter ketaqwaan, karakter keilmuan, kesyukuran, keterbimbingan dan kekuatan sempurna ketaqwaan sajalah yang akan mampu menghadapi kehidupan akhir zaman yang sering menghanyutkan dan menggelincirkan.

Allahu Akbar Walillahilhamd

Jamaah rahimakumullah, momentum lebaran ini adalah awal mendeteksi apakah pendidikan selama 1 bulan menuai hasil apa tidak. Jika kita istiqamah dengan tradisi ibadah dan kebaikan untuk 11 bulan ke depan, maka yakinlah puasa kita terindikasi diterima. Tapi jika setelah bulan Ramadhan selesai, kok kita kembali seperti semula, dipastikan pendidikannya mendapti kegagalan alias belum lulus.

Kita sempurnakan puasa ramadlan kita pada hari raya Idul fitri ini dengan menumbuhkan semangat saling memaafkan, saling mengingatkan, saling berbagi kebahagiaan, saling merefleksikan segala sesuatu yang terlewatkan untuk terus kita perbaiki dan tingkatkan..

Akhirnya mari kita berdoa kepada Allah yang maha Rahman agar kita semua menjadi hamba Allah yang sempurna keimanan, sempurna ketaqwaan, sempurna keilmuan, dan kebahagiaan, bahagia keduniawian dan keukhrawian. Amin Allahumma Amiin.

تقبل الله منا ومنكم وصيامنا و صيامكم

وجعلنا الله وإياكم  من العائدين الفائزين المقبولين

بارك الله لى ولكم فى القرآن الكريم ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل منى و منكم تلاوته أنه هو السميع العليم

Jumat, Oktober 23, 2020

KENAPA HARI SANTRI HARUS 'DIPERINGATI'

 Pengantar:

Saya perlu menyimpan informasi ini agar sejarah dan peran santri ada yang mengabadikan, agar masyarakat luas lebih memahami apa yang terjadi sebenarnya. Saya publish hasil broadcast kawan-kawan di group. Untuk memahaminya, maka sebaiknya anda membaca secara tuntas. 

=========================================

Mengapa kalangan muslim modernis (Muhammadiyah wa akhawatuha) dan kalangan sosialis (PSI) kecewa kepada kepemimpinan Presiden Jokowi?

Dalam sejarah pertempuran 10 November 1945, awalnya tidak ada yang mau mengakui fatwa & resolusi jihad itu pernah ada. Tulisan Prof. Ruslan Abdul Gani, yang ikut terlibat, resolusi jihad disebut tidak pernah ada.

Bung Tomo yang berpidato teriak-teriak, dalam bukunya juga tidak pernah menyebutkan bahwa fatwa & resolusi jihad pernah ada. Laporan tulisan Mayor Jendral Sungkono juga tidak menyebut pernah ada fatwa & resolusi jihad.

Karena itu, banyak orang menganggap fatwa & resolusi jihad itu hanya dongeng dan cerita orang NU saja. 

“Di antara elemen bangsa Indonesia yang tidak memiliki peran dan andil dalam usaha kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia itu hanya golongan pesantren khususnya NU,” itu kesimpulan seminar nasional di PTN besar di Jakarta tentang perjuangan menegakkan Negara Republik Indonesia, pada 2014. Bahkan dengan sinis salah seorang mereka menyatakan, “Organisasi PKI, itu saja pernah berjasa karena pernah melakukan pemberontakan tahun 1926 melawan Belanda. NU tidak pernah.” Aneh.

Pandangan ini juga pernah dianut oleh tokoh-tokoh LIPI. Gus Dur juga mengkonfirmasi bahwa sejarah ulama dan kiai memang sudah lama ingin dilenyapkan. Tahun 1990 ada peringatan 45 tahun pertempuran 10 November. Yang jadi pahlawan besar dalam pertempuran 10 November diumumkan dari golongan itu, yakni orang terpelajar yang berpendidikan tinggi. Nama-nama mereka muncul tersebar di televisi, koran, dan majalah. 

“Itu ceritanya, 10 November yang berjasa itu harusnya Kyai Hasyim Asy'ari dan para kiai. Kok bisa yang jadi pahlawan itu wong-wong sosialis?" begitu komentar Nyai Sholihah, ibu Gus Dur.

Dari situlah Gus Dur diminta untuk klarifikasi. Lalu Gus Dur meminta klarifikasi, menemui tokoh-tokoh tua & senior di kalangan kelompok sosialis, mengenai 10 November. Sambil ketawa-ketawa mereka menjawab, “Yang namanya sejarah dari dulu kan selalu berulang, Gus. Bahwa sejarah sudah mencatat, orang bodoh itu makanannya orang pintar!”

“Yang berjasa orang bodoh, tapi yang jadi pahlawan wong pinter. Itu biasa, Gus”, katanya kepada Gus Dur. Gus Dur marah betul dibegitukan. Sampai tahun 90-an NU masih dinganggap bodoh oleh mereka. Tahun 1991 Gus Dur melakukan kaderisasi besar-besaran di kalangan anak muda NU.

Anak-anak santri dilatih mengenal analisis sosial (ansos) dan teori sosial, filsafat, sejarah, geopolitik, dan geostrategi. Semua diajarkan supaya tidak lagi dianggap bodoh. Dan kemudian berkembang hingga kini. “Saya termasuk yang ikut pertama kali kaderisasi itu, karena itu, agak faham,” kata Dr. H. Agus Sunyoto.

Saat penulis sejarah Indonesia menyatakan fatwa dan resolusi jihad tidak ada, Dr. H. Agus Sunyoto menemukan tulisan sejarawan Amerika, Frederik Anderson. Dalam tulisanya tentang penjajahan Jepang di Indonesia selama 1942-1945, ia menulis begini:

Pada 22 Oktober 1945 pernah ada resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Surabaya. Tanggal 27 Oktober, Koran Kedaulatan Rakyat juga memuat lengkap resolusi jihad. Koran Suara Masyarakat di Jakarta, juga memuat resolusi jihad.

Peristiwa ini ada, sekalipun orang Indonesia tidak mau menulisnya karena menganggap NU yang mengeluarkan fatwa sebagai golongan lapisan bawah. Sejarah dikebiri. Dokumen-dokumen lama yang sebagian besar berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jepang, dan sebagainya, dibongkar.

Patahlah semua anutan doktor sejarah yang menyatakan NU tidak punya peran apa-apa terhadap kemerdekaan.

Ketika Indonesia pertama kali merdeka 1945, kita tidak punya tentara. Baru dua bulan kemudian ada tentara. Agustus, September, lalu pada 5 Oktober dibentuk tentara keamanan rakyat (TKR). Tanggal 10 Oktober diumumkanlah jumlah tentara TKR di Jawa saja. Ternyata, TKR di Jawa ada 10 divisi. 1 divisi isinya 10.000 prajurit. Terdiri atas 3 resimen dan 15 batalyon.

Artinya TKR jumlahnya ada 100.000 pasukan. Itu TKR pertama yang nantinya menjadi TNI. Dan komandan divisi pertama TKR itu bernama Kolonel KH. Sam’un, pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga masih kiai, yakni kolonel KH. Arwiji Kartawinata (Tasikmalaya). Sampai tingkat resimen kiai juga yang memimpin.

Fakta juga, resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Di batalyon pun banyak komandan kiai. Komandan batalyon TKR Malang misalnya, dipimpin Mayor KH. Iskandar Sulaiman yang saat itu menjabat Rais Suriyah PCNU Kabupaten Malang. Ini dokumen arsip nasional, ada di Sekretariat Negara dan TNI.

Tapi semua data itu tidak ada di buku bacaan anak SD/SMP/SMA. Seolah tidak ada peran kiai. KH. Hasyim Asy'ari yang ditetapkan pahlawan nasional oleh Bung Karno pun tidak ditulis. Jadi jasa para kiai dan santri memang dulu disingkirkan betul dari sejarah berdirinya Republik Indonesia ini.

Waktu itu, Indonesia baru berdiri. Tidak ada duit untuk membayar tentara. Hanya para kiai dengan santri-santri yang menjadi tentara dan mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Hanya para kiai, dengan tentara-tentara Hizbullah yang mau berkorban nyawa tanpa dibayar. Sampai sekarang pun, NU masih punya tentara swasta namanya Banser, yang juga tidak dibayar. 😆

Tentara itu baru menerima bayaran pada tahun 1950. Selama 45 sampai perjuangan di tahun 50-an itu, tidak ada tentara yang dibayar negara. Kalau mau sedikit berpikir, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah peristiwa paling aneh dalam sejarah. Kenapa? Kok bisa ada pertempuran besar yang terjadi setelah perang dunia selesai 15 Agustus 1945.

Sebelum pertempuran 10 November, ternyata ada perang 4 hari di Surabaya, yakni 26, 27, 28, 29 Oktober 1945. Kok ‘ujug-ujug’ muncul perang 4 hari ini ceritanya bagaimana? Jawabnya: Karena sebelum 26 Oktober, Surabaya bergolak, yakni setelah ada fatwa resolusi jihad PBNU pada tanggal 22 Oktober. Kini diperingati sebagai Hari Santri.

Tentara Inggris sendiri aslinya tidak pernah berpikir akan berperang dan bertempur dengan penduduk Surabaya. Perang selesai kok. Begitu pikirnya. Tapi karena masyarakat Surabaya terpengaruh fatwa dan resolusi jihad, mereka siap menyerang Inggris, yang waktu itu mendarat di Surabaya. Sejarah inilah yang selama ini ditutupi.

Jika resolusi jihad ditutupi, orang yang membaca sekilas peristiwa 10 November akan menyebut tentara Inggris ‘ora waras’. Ngapain mengebomi kota Surabaya tanpa sebab? Tapi kalau melihat rangkaian ini dari resolusi jihad, baru masuk akal. “Oya, marah mereka karena jenderal dan pasukannya dibunuh arek-arek Bonek Suroboyo”.

Fatwa Jihad muncul karena Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PBNU: apa yang harus dilakukan warga Negara Indonesia kalau diserang musuh mengingat Belanda ingin kembali menguasai. Bung Karno juga menyatakan bagaimana cara agar Negara Indonesia diakui dunia. Sejak diproklamasikan 17 Agustus dan dibentuk 18 Agustus, tidak ada satu pun negara di dunia yang mau mengakui.

Oleh dunia, Indonesia diberitakan sebagai negara boneka bikinan Jepang. Bukan atas kehendak rakyat. Artinya, Indonesia disebut sebagai negara yang tidak dibela rakyat. Fatwa dan Resolusi Jihad lalu dimunculkan oleh PBNU. Gara-gara itu, Inggris yang mau datang 25 Oktober tidak diperbolehkan masuk Surabaya karena penduduk Surabaya sudah siap berperang.

Ternyata sore hari, Gubernur Jawa Timur mempersilakan. “Silahkan Inggris masuk tapi di tempat yang secukupnya saja”. Ditunjukkanlah beberapa lokasi, kemudian mereka masuk. Tanggal 26 Oktober, ternyata Inggris malah membangun banyak pos-pos pertahanan dengan karung-karung pasir yang ditumpuk & diisi senapan mesin.

“Lho, ini apa maunya Inggris. Kan sudah tersiar kabar luas kalau Belanda akan kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Inggris,” begitu kata arek-arek. Pada 26 Oktober sore hari, pos pertahanan itu diserang massa. Penduduk Surabaya dari kampung-kampung keluar ‘nawur’ pasukan Inggris. “Ayo ‘tawur..tawuran...!”

Para pelaku mengatakan, itu bukan perang mas, tetapi tawuran. Kenapa? Gak ada komandanya, tidak ada yang memimpin. “Pokoke wong krungu jihad.. 

jihad… Mbah Hasyim.. Mbah Hasyim…”. Berduyun-duyun, arek-arek Suroboyo sudah keluar rumah semua dan langsung tawur sambil teriak ‘Allahu Akbar’ dan itu berlangsung 27 Oktober.

Mereka bergerak karena seruan jihad Mbah Hasyim itu disiarkan lewat langgar-langgar, masjid-masjid, dan speaker-speaker. Pada 28 Oktober tentara ikut arus arek2-arek, ikut gelut dengan Inggris. Massa langsung dipimpin tentara. Dalam pertempuran 28 Oktober ini 1000 lebih tentara Inggris mati dibunuh.

Tapi tentara tidak mau mengakui karena Indonesia meski sudah merdeka, belum ada yang mengakui. Itu jadi urusan besar tingkat dunia jika ada kabar tentara Indonesia bunuh Inggris. Tentara tidak mau ikut campur. Negara belum ada yang mengakui kok sudah klaim bunuh tentara Inggris. Itu semua ikhtiyar arek-arek Suroboyo kabeh.

Pada 29 Oktober pertempuran itu masih terus terjadi. Inggris akhirnya mendatangkan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk mendamaikan. Pada 30 Oktober ditandatanganilah kesepakatan damai tidak saling menembak. Yang tanda tangan Gubernur Jatim juga. Sudah damai, tapi massa kampung tidak mau damai.

Pada 30 Oktober akhirnya Brigadir Jenderal Mallaby digranat arek-arek Suroboyo. Mati mengenaskan di tangan pemuda Ansor. Ditembak dan mobilnya digranat di Jembatan Merah. Sejarah kematian Mallaby ini tidak diakui oleh Inggris. Ada yang menyebut Mallaby mati dibunuh secara licik oleh Indonesia. Aneh, jenderal mati tapi disembunyikan penyebabnya karena malu.

Inggris marah betul. Masa negara kolonial kalah. Mereka malu dan bingung. Perang sudah selesai, tapi pasukan Inggris kok diserang, jenderalnya dibunuh. Apa ini maksudnya? “Kalau sampai tanggal 9 Nopember jam 6 sore pembunuh Mallaby tidak diserahkan, dan tanggal itu orang-orang Surabaya masih yang memegang bedil, meriam dst. tidak menyerahkan senjata kepada tentara Inggris, maka tanggal 10 Nopember jam 6 pagi Surabaya akan dibombardir lewat darat, laut, dan udara," begitu amuk jenderal tertinggi Inggris.

Datanglah tujuh kapal perang langsung ke Pelabuhan Tanjung Perak. Meriam Inggris sudah diarahkan ke Surabaya. Diturunkan pula meriam Howidser yang khusus untuk menghancurkan bangunan. Satu skuadron pesawat tempur dan pesawat pengebom juga siap dipakai. Surabaya kala itu memang mau dibakar habis karena Inggris marah kepada pembunuh Mallaby.

Pada 9 November jam setengah empat sore, Mbah Hasyim yang baru pulang usai Konferensi Masyumi di Jogja sebagai ketua, mendengar kabar arek-arek Suroboyo diancam Inggris. “Fardhu a'in bagi semua umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilometer dari Kota Surabaya untuk membela Kota Surabaya.” Ukuran 94 kilometer itu adalah jarak dibolehkannya meng-qoshor dan men-jamak salat.

Wilayah Sidoarjo, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, wilayah Mataraman, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang datang semua karena dalam jarak radius 94 kilometer. Dari Kediri, Lirboyo ini datang dipimpin Kyai Mahrus. Seruan Mbah Hasyim langsung disambut luar biasa. Bahkan Cirebon yang lebih dari 500 kilometer datang ke Surabaya ikut seruan jihad PBNU.

Anak-anak kecil bahkan orang-orang dari lintas agama juga ikut berperang. Orang Konghucu, Kristen, dan Budha semua ikut berjihad. Selain Mallaby, yang juga terbunuh dalam pertempuran di Surabaya adalah Brigadir Jendral Loder Saimen. Luar biasa pengorbanan arek-arek Surabaya, para kiai, dan santri. Tapi lihat, apa yang dilakukan pemerintah di kemudian hari kepada para kiai ini? Dimanipulasi.

-----------------------------

Ini adalah uraian KH. Dr. Agus Sunyoto saat menghadiri bedah buku "Fatwa dan Resolusi Jihad" di Pondok Lirboyo, 3 November 2017.

Kamis, Juni 11, 2015

MENGAPA KELAS JAUH HARUS DILARANG?

Ketika Direktorat Pendidikan Tinggi Islam merilis PTAI yang diduga menyelenggarakan kelas jauh, dunia pendidikan tinggi “gempar”. Setidaknya ada tiga respon yang muncul. Pertama, menyatakan keberatan karena merasa tidak menyelenggarakan kelas jauh. Kedua, menyatakan keberatan meski menyelenggarakan kelas jauh. Ketiga, tetap adem-ayem melanjutkan menyelenggarakan kelas jauh. Keempat, mengakui menyelenggarakan kelas jauh dan meminta secara gentlemen untuk melakukan penataan secara bertahap. Ibarat orang tua yang menjewer anaknya yang nakal, memang kadangkala ada yang rela dijewer karena mengakui kesalahan tapi ada pula yang tidak rela dijewer karena merasa mempunyai power untuk lepas dari jeweran tersebut.Pelbagai respon ini tentu membawa efek yang berbeda-beda. Tapi bagi mayarakat pada umumnya, penyelenggaraan pendidikan yang “on the track”-lah yang diharapkan. Karena jaminan mutu pelaksanaannya bisa dipertanggungjawabkan.

Mendefinisikan “Kelas Jauh”
Dalam edaran Dirjen Pendidikan Tinggi No. 016/D/T/1988 terminologi penyelenggaraan pendidikan yang “terlarang” disebut dengan Penyelenggaraan Program Khusus pada Perguruan Tinggi Swasta, dengan beberapa indikator; pertama, perkuliahan hanya dilaksanakan dalam satu atau dua hari secara terus menerus dalam satu minggu. Kedua, perkuliahan hanya dilaksanakan pada hari jumat dan sabtu saja atau pada hari minggu atau pada hari libur saja. Ketiga, penerimaan mahasiswa yang lokasinya jauh dan tidak memungkinkan untuk bisa mengikuti kegiatan perkuliahan dengan sistem SKS. Keempat, kondisi tenaga pengajar yang tidak mungkin menunaikan tugasnya sesuai dengan sistem SKS. Lalu pada tahun 1997 dalam edaran Nomor 2559/D/T/97 secara tegas istilah kelas jauh adalah pendidikan model jarak jauh yang tidak berizin. Pemerintah hanya mengizinkan pendidikan jarak jauh yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka (UT). Hal itu kemudian ditegaskan kembali dalam edaran Nomor 2630/D/T/2000 bahwa kelas jauh selain model UT dilarang. PTN dan PTS dapat menyelenggarakan pembelajaran model UT yang akan diatur dalam regulasi tersendiri. Nomenklatur “kelas larangan” ini berkembang terus dengan berbagai bentuknya. Ada yang menyebutnya dengan “kelas eksekutif”, “kelas khusus” dan sejenisnya. Pada tahun 2005, larangan tersebut ditegaskan kembali dalam surat Ditjen Pendidikan Tinggi Nomor 1506/D/T/2005. Dalam surat edaran tersebut sudah berani menyebutkan efek “kelas larangan” tersebut—di antaranya—adalah bahwa ijazah yang dikeluarkannya dianggap tidak sah. Penegasan ketidaksahan ijazah tersebut juga ditegaskan dalam edaran yang diterbitkan pada tahun 2007 dengan Nomor 595/D5.1/T/2007. Pada tahun yang sama Direktur Jenderal Pendidikan Islam mengeluarkan edaran dengan Nomor: Dj.I/PP.00.9/1325A/2007 untuk memperjelas ruang lingkup “kelas larangan” tersebut, yaitu Pertama, penyelenggaraan proses belajar mengajar di luar kampus perguruan tinggi dalam kondisi normal; Kedua, pengorganisasian rombongan belajar khusus untuk semata-mata mempercepat waktu penyelesaian studi; ketiga, pembukaan kelas (cabang) perguruan tinggi di lokasi lain; keempat, penyelenggaraan perguruan tinggi tanpa izin dengan mendaftarkan legalitas pesertanya pada perguruan tinggi lain yang akan mengeluarkan ijazah; kelima, modus-modus lain yang pada intinya menyalahi praktik pendidikan dan cenderung menyederhanakan/mempermudah pemberian ijazah dan gelar akademik.
Dengan definisi yang tertuang dalam beberapa “generasi” edaran tersebut, maka adalah sah jika pemangku kebijakan menjalankan sanksi-sanksi sebagai bentuk pelaksanaan amanah atas jabatan yang dititipkan kepadanya. Yang menarik lagi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga merasa berkepentingan untuk memahami seluk-beluk kelas jauh ini, mengingat kekhawatiran masyarakat akan merebaknya “kelas terlarang” tersebut.

Efek Sertifikasi
Perjalanan saya ke beberapa daerah menunjukkan bahwa pada umumnya prodi yang diselenggarakan pada “kelas terlarang” adalah prodi pada bidang ilmu pendidikan khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI), termasuk di perguruan tinggi umum. Bisa jadi, ini dikarenakan prodi PAI—dan juga prodi kependidikan lainnya—mempunyai “masa depan” yang jelas karena “kelenturan” prodinya, bisa menjadi guru apa saja dan di mana saja. Kira-kira begitulah yang mengemuka di masyarakat. Arus ini makin menguat ketika program sertifikasi dicanangkan sebagai amanat dari Undang-Undang 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Nah, kondisi ini juga tidak bisa dipisahkan dari kebijakan sertifikasi guru di lingkungan Kementerian Agama yang diterapkan boleh “melintas batas” bidang ilmu. Misalkan saja, guru bidang studi dan guru kelas bisa dari PAI. Kondisi yang demikian dimanfaatkan betul oleh penyelenggara perguruan tinggi sebagai “magnet” untuk meningkatkan jumlah mahasiswa.

Kelas Jauh; Merugikan Institusi Keagamaan
Hampir bisa dipastikan bahwa pendidikan model kelas jauh, proses pendidikannya tidak benar. Meskipun tidak dipungkiri ada juga yang “benar”. Beberapa fakta yang ditemukan di lapangan, setidaknya ada beberapa model “pelanggaran” yang dilakukan. Pertama, memperkecil jam kuliah. Jika SKS ditetapkan 3 SKS yang berarti 50” x 3 = 150” (2 Jam 30 menit), realisasinya—bisa jadi—hanya 1 Jam 30 menit atau lebih sedikit. Kedua, menerapkan model pembelajaran sistem “rapel.” Karena daya jangkau dosen adalah jauh, maka ketika dosen pemangku mata kuliah tertentu hadir, kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk meng-‘jama’ perkuliahannya. Ibarat orang minum obat, resep normal adalah 1 x 3. Karena ingin cepat “sembuh”, maka “obat” yang diminum menjadi 3 x 1. Bisa dibayangkan jika mahasiswa kelas jauh tersebut diumpamakan minum obat? Ketiga, cenderung motivasi yang dominan adalah motivasi ekonomi. Dengan jumlah mahasiswa yang meningkat, maka pembiayaan pendidikan bisa tertanggulangi. Bahkan tidak jarang, proses pendidikan lebih singkat dari yang semestinya dengan kompensasi tertentu. Sehingga, ada “sisa” operasional. Bahkan beberapa laporan masyarakat yang ditujukan kepada Direktur Pendidikan Tinggi Islam, ada beberapa laporan terjadi “jual beli” ijazah. “Sungguh menyedihkan!” Praktik yang demikian itu kemudian memunculkan “plesetan” yang merugikan. Sebutan STAI menjadi Sekolah Tidak Ada Ijazah, STIS (Sekolah Tidak Ijazah Siap), dan labeling lainnya. Tentu ini merugikan citra pendidikan agama. Keempat, cenderung membolehkan—untuk tidak menggunakan istilah “menghalalkan”—segala cara. Proses pendidikan yang rata-rata 144 SKS, dengan beban tiap minggunya 20-24 SKS bisa di”olah” sedemikian rupa.

Perguruan Tinggi Tidak Menggubris Larangan
Memperhatikan efek negatif tersebut, Pemerintah melalui Ditjjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud dan Ditjen Pendidikan Islam Kemenag mengeluarkan edaran dan larangan penyelenggaraan kelas jauh sejak tahun 1988. Tahun 1997 Dikti mengeluarkan larangan tersebut yang teruang dalam Surat Edaran Nomor 2559/D/T/97, bahkan di dalamnya termasuk kelas hari Sabtu-Minggu. Karena respon yang tidak begitu digubris, Kementerian Agama juga mengeluarkan edaran untuk memperkuat edaran yang dikeluarkan oleh Ditjen Pendidikan Tinggi, pada tahun 2007. Berbagai edaran diterbitkan, namun tidak digubris oleh masyarakat perguruan tinggi. Di lingkungan Kementerian Agama, Direktur Pendidikan Tinggi Islam menerbitkan PTAI yang diduga menyelenggarakan kelas jauh beserta sanksinya, yang tertuang dalam surat Nomor: Dj.I/Dt.I.IV/4/PP.)).9/3437/13 . Penerbitan sanksi ini dalam rangka penataan penyelenggaraan PTAI.

Pendidikan Agama tidak melulu urusan dunia.
Penerbitan sanksi tersebut harus dipahami dengan posisinya yang tepat. Memang, jika dipahami dari kacamata individual akan dipandang sebagai sesuatu yang tidak tepat. Mengkaji penyelenggaraan pendidikan agama Islam atau prodi keagamaan pada PTAI, bukanlah melulu urusan mencari nafkah setelah seorang mahasiswa menyelesaikan studinya. Mengajarkan keagamaan kepada masyarakat akan dipertanggungjawabkan kepada Allah. Untuk itu diperintahkan agar mengajarkannya dengan ketuntasan, entah berhubungan dengan masa depannya di dunia atau tidak. Bahkan, dalam beberapa literatur klasik Islam, menuntut ilmu untuk motivasi dunia dianggap termasuk ke dalam kerugian. Syech Adz-Dzarnuji, penulis buku panduan menuntut ilmu “ta’lim al-muta’allim” mengatakan dalam Syairnya, “Barang siapa yang mencari ilmu untuk Tuhannya, maka Dia akan senantiasa menjaganya dalam petunjuk-Nya. Aduhai sungguh merugi orang yang mencari ilmu karena hanya untuk kepentingan mengisi perut.” Agaknya syair tersebut diinisiasi oleh firman Allah Swt dalam sebuah hadis Qudsy, “ Wahai Dunia, jagalah hamba-hamba-Ku karena mereka menuntut ilmu karena Aku. (Sebaliknya) Wahai Dunia, silahkan ambil (baca: perbudak) hamba-hamba-Ku karena menuntut ilmu karena kamu.”
Untuk itu, menempuh proses studi dengan cara cepat dan singkat tidak mungkin dapat membekali mahasiswanya dengan tuntas. Maka, bagaimana nasib anak bangsa ini, jika para pendidiknya adalah produk “kelas jauh”? Bagaimana akhlak anak bangsa ini, jika pendidiknya adalah produk “ketidakbenaran”? Jangan-jangan mereka akan mengajarkan kesalahan dan dosa karena minimnya wawasan keagamaannya. Begitu besar bahayanya “orang-orang pintar” jika mempunyai kekuasaan.
Ingat kata Syaikh Adz-Dzarnuji juga pernah wanti-wanti, “fasadun kabirun ‘alimun mutahatikun” (kerusakan yang amat besar karena orang-orang pandai yang merusak). Yang saya khawatirkan, jangan-jangan, kemerosotan pendidikan agama Islam saat ini adalah efek model produksi tenaga pendidik dan kependidikan yang demikian itu.
Perlu ada pemahaman bersama bahwa studi di PTAI bukanlah ditujukan untuk mempersiapkan tenaga kerja atau orang yang siap kerja di perusahaan-perusahaan tertentu. Karena kurikulum pada PTAI tidak mentransformasi kompetensi tersebut. Pendidikan di PTAI adalah melampaui (beyond) hal tersebut. Meski tidak dipungkiri, bahwa lulusan PTAI mempunyai daya lentur yang sangat tinggi dalam hal profesi atau pilihan dunia kerjanya.
Semoga bermanfaat!!
*) Penulis adalah Kasi Pembinaan Kelembagaan Subdit Kelembagaan Diktis. Tulisan ini merupakan ekspresi pribadi sebagai refleksi atas penyelenggaraan pendidikan tinggi agama Islam selama ini.